Merapi Meletus: 1 Bayi Tewas, Puluhan Korban Awan Panas, Mbah Maridjan Menghilang

Beautiful Day Blog | Merapi Meletus: 1 Bayi Tewas, Puluhan Korban Awan Panas, Mbah Maridjan Menghilang |


Setelah meletus sore ini (26 Oktober 2010) , Gunung Merapi mulai memakan korban jiwa. Seorang bayi berusia enam bulan tewas karena sesak nafas akibat abu vulkanik.

Bayi bernama Ilham Masaki ini merupakan warga Gedongan, Ngargosuko, Kecamatan Srumbung, Magelang. Ilham dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Magelang di Muntilan dalam keadaan kritis, sesak nafas dan kulit melepuh. Namun setiba di Rumah Sakit, Ilham meninggal dunia.

Direktur RSUD Magelang dr Sasongko menyatakan, saat ini rumah sakit sudah merawat 24 pasien yang umumnya anak-anak dan orang lanjut usia. "Umumnya mereka mengidap gejala sesak nafas," kata Sasongko.

Sementara itu, Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, Yogyakarta, sudah menerima delapan orang korban awan panas Merapi. Belum diketahui identitas mereka yang dirawat ini.

"Semuanya itu menderita luka bakar tapi data lengkapnya semuanya ada di rekam medis dan kami segera evakuasikan ke Rumah Sakit Dr Sardjito," kata petugas Instalasi Gawat Darurat RS Panti Nugroho.

Sejak sore tadi, Merapi sejak pukul 17.02, sudah bererupsi dalam bentuk wedhus gembel yakni awan panas berisi abu dan kerikil. Sifat letusan eksplosif yang mengarah ke barat, barat daya, selatan dan tenggara

Warga telah dihimbau untuk segera mengungsi semua sejak 25 Oktober 2010 lalu. namun upaya evakuasi tidak berjalan lancar. Tidak sedikit warga yang memilih tetap bertahan di rumahnya termasuk juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan dikabarkan tidak turut turun saat evakuasi berlangsung. Ia kukuh memilih bertahan dan tirakatan di masjid dekat rumahnya di Kinahrejo, Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

"Mbah Maridjan diduga terjebak di Masjid Kinahrejo, yang terletak di samping rumahnya," kata Agus, asisten Mbah Maridjan.

Diceritakan Agus, saat sirine berbunyi tanda gunung meletus, ia dan keluarga Mbah Mardijan dan beberapa orang yang terakhir bertahan di rumah juru kunci tersebut memutuskan turun dengan mengendarai dua mobil sampai ke tempat aman.

Sampai di tempat evakuasi, dua orang yakni Tutur dari PMI Bantul, Yogyakarta dan Yuniawan Nugroho (Wawan), wartawan VIVAnews.com, berinisiatif untuk menjemput paksa Mbah Maridjan yang masih berdoa di masjid.

"Mereka berdua naik mobil ke atas menjemput Mbah Maridjan. Namun, saat ini kami kehilangan kontak dengan mereka. Kami duga mereka terjebak, karena awan panas sudah sampai ke kediaman Mbah Maridjan," katanya.

Sejarah mencatat, sejak tahun 1548, Merapi sudah meletus sebanyak 68 kali--dengan letusan-letusan kecil terjadi tiap  2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan dahsyat pernah terjadi antara lain tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Di tahun 1930, letusan Merapi menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.370 orang.

Letusan terakhir Merapi terjadi tahun 2006 lalu. Pada 4 Juni 2006, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status 'awas'.

Kemudian pada 8 Juni 2006, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan menyemburkan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng panik dan melarikan diri ke tempat aman.


Source: vivanews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar